Rabu, 23 Desember 2009

Pemeriksaan Kualitas Krim

Krim dianggap rusak apabila terganggu sistem campurannya terutama disebabkan oleh perubahan suhu serta perubahan komposisi. Perubahan yang terjadi dikarenakan penambahan salahsatu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain ( Anonim, 1979 ).

Pemerikasaan kualitas dari sediaan krim antara lain :

a.Homogenitas
Merupakan perataan fase terdispersi dalam bahan pendispersi, tidak adanya agregasi partikel sekunder, distribusi yang merata dan teratur dari fase terdispersi serta penghalusan parikel primer yang besar. Ukuran partikel menentukan tingkat homogenitas zat aktif, tingkat kerja optimal dan bebas pengganggu ( Voigt, 1984 ).

b.Viskositas
Diartikan sebagai koefisien gesekan aliran dalam (kekentalan)suatu larutan. Didapat dengan menggunakan alat yang disebut viskometer, yaitu viscometer rotasi.Pada viskometer rotasi, sampel yang diukur berada dalam celah cicin diantara dua silinder yang disusun konsentris, dimana salah satu silindernya dapat berputar. Disebabkan oleh kekentalan dibagian dalamnya maka pada silinder sebelah dalam akan dihasilkan momen putar, yang harganya diukur dangan menggunakan sudut putaran sebuah per melingkar. Penyimpangan yang terbaca dan ditunjukkan oleh jarum penunjuk pada sebuah skala, adalah proporsional denga momen putar dan juga dengan tegangan gesera atau tumbukan τ. Operasional viskometer berjalan melaui motor sinkronisasi. Jumlah putaran, yang proporsional dengan perbedaan geseran D, diatur dengan sebuah roda. Pada alat yang dikonstruksikan menurut prinsip SEARL, roda tersebut akan memutar silinder sebelah dalam. Alat dari jenis ini yang dikenal adalah Rotovisko, Rheomat 15, Rheotest dan viskometer–Synchroelectric–BROOCKFIELD. Menurut prinsip–CUETE, dimana yang berputar adalah silinder sebelah luar, bekerja viskometer–FERRANTI–HELMES dan viskometer–rotasi–AGFA ( Voigt, 1984 ).

c.pH
Digunakan untuk melihat kondisi krim agar tidak mengiritasi kulit yang mempunyai pH normal 4,5 – 6,5 ( Wasitaatmadja, 1997 ) maka dari itu harus dijaga rentang pH krim yang dibuat .

d.Daya Sebar
Adalah kemampuan penyebaran krim pada kulit. Penentuannya dilakukan dengan extensometer. Sebuah sampel krim dengan volume tertentu diletakkan dipusat antara lempeng gelas, dimana lempeng sebelah atas dalam interval waktu tertentu dibebani anak timbangan di atasnya. Permukaan penyebaran yang dihasilkan dengan meningkatkan beban, merupakan karakteristik daya sebar ( Voigt, 1984 ). Daya sebar yang baik akan menjamin pelepasan bahan obat yang memuaskan (Voigt,1984).

e.Daya Lekat
Daya lekat merupakan kemampuan krim untuk melapisi permukaan kulit secara kedap dan tidak menyumbat pori – pori serta tidak menyumbat fungsi fisiologis kulit ( Voigt, 1984).

f.Daya Pisah
Stabilitas sebuah emulsi adalah sifat emulsi untuk mempertahankan distribusi halus dan teratur dari fase terdispersi yang terjadi dalam jnagka waktu yang panjang. Kehancuran sebuah emulsi ditunjukkan oleh penurunan stabilitasnya dan merupakan proses bertahap banyak. Sedimentasi merupakan tahap awal kerusakan dimana peristiwa ini terjadi bila berat jenis dari fase terdispersi lebih besar dari bahan pendispersi, sehingga akan menyebabkan kedua fase krim emulsi akan terpisah dan membentuk dua lapisan emulsi ( Voigt, 1984 ).

Sumber :
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan RI,Jakarta , 8.

Voigt, R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Noerono, S.,
Edisi V, UGM Press, Yogyakarta, 90 – 96. 163. 382. 434.

Wasitaatmadja, S.M., 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, Universitas Indonesia
Press, Jakarta, 17.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar