Rabu, 02 Desember 2009

PEMBUATAN SEDIAAN SALEP MATA


Formula standar
Komposisi. Tiap g mengandung :
Sulfacetamidum Natricum 25 mg
Oculentum simplex hingga 1 g
Penyimpanan. Dalam wadah tertutup rapat atau dalam tube.
Dosis. 5 kali sehari, dioleskan.
Catatan. 1. Oculentum simplex terdiri dari 2,5 g setil alcohol, 6 g lemak bulu
domba, 40 g paraffin cair dan vasellin putih hingga 100 g.
Disterilkan dengan cara panas kering.
2. Dibuat dengan teknik aseptik
3. Sediaan berkekuatan lain : 100 mg; 200 mg ( Anonim, 1978 ).

Formula modifikasi
R/ Sulfacetamidum Natricum 0,25 g
Setil alcohol 0,24375 g
Lemak bulu domba 0,585 g
Parafin cair 3,9 g
Vaselin flavum ad 10 g

Salep merupakan sediaan semipadat yang umumnya bersifat anhydrous, berlemak, dan mengandung obat yang tidak larut atau terdispersi ( Saifullah, 2008 : 59 ). Salep dapat digunakan sebagai sediaan untuk tujuan pengobatan atau terapi ( harus mengandung bahan obat ), sebagai pelindung, pelunak kulit, atau sebagai pembawa ( vehikulum ) ( Saifullah, 2008 : 63 ). Salep tidak boleh berbau tengik, kecuali dinyatakan lain kadar obat di dalam salep yang mengandung keras atau obat narkotik tidak boleh lebih dari 10% ( Anief, 2000 : 53 ).
Salep yang baik memiliki sifat – sifat sebagai berikut :
a. Stabil : baik selama distribusi, penyimpanan, maupun pemakaian. Stabilitas terkait dengan kadaluarsa, baik secara fisik (bentuk, warna, bau, dll) maupun secara kimia ( kadar/kandungan zat aktif yang tersisa ). Stabilitas dipengaruhi oleh banyak factor, seperti suhu, kelembaban, cahaya, udara, dan lain sebagainya.
b. Lunak : walaupun salep pada umumnya digunakan pada daerah/wilayah kulit yang terbatas, namun salep harus cukup lunak sehingga mudah untuk dioleskan.
c. Mudah digunakan: supaya mudah dipakai, salep harus memiliki konsistensi yang tidak terlalu kental atau terlalu encer. Bila terlalu kental, salep akan sulit dioleskan, bila terlalu encer maka salep akan mudah mengalir/meleleh ke bagian lain dari kulit.
d. Protektif : salap – salep tertentu yang diperuntukkan untuk protektif, maka harus memiliki kemampuan melindungi kulit dari pengaruh luar misal dari pengaruh debu, basa, asam, dan sinar matahari.
e. Memiliki basis yang sesuai : basis yang digunakan harus tidak menghambat pelepasan obat dari basis, basis harus tidak mengiritasi, atau menyebabkan efek samping lain yang tidak dikehendaki.
f. Homogen : kadar zat aktif dalam sediaan salep cukup kecil, sehingga diperlukan upaya/usaha agar zat aktif tersebut dapat terdispersi/tercampur merata dalam basis. Hal ini akan terkait dengan efek terapi yang akan terjadi setelah salep diaplikasikan ( Saifullah, 2008 : 63, 64 ).
Salahsatu macam salep adalah salep mata yang digunakan pada mata. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata, memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang tepat. Vaselin merupakan dasar salep mata yang sering banyak digunakan. Beberapa dasar salep yang dapat menyerap, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar larut dalam air dapat digunakan untuk obat yang larut dalam air. Bahan dasar seperti ini memungkinkan dispersi obat larut air yang lebih baik, tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada mata ( Anonim,1995 : 12, 13 ).
Salep mata harus mengandung bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu penggunaan; kecuali dinyatakan lain dalam monografi atau formulanya sendiri sudah bersifat baktriostatik. Bahan obat yang ditambahkan ke dalam dasar salep berbentuk larutan atau serbuk halus. Wadah untuk salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu pengisian dan penutupan. Wadah salep harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama ( Anonim, 1995 : 12 ).
Sulfasetamid adalah senyawa antibakteri golongan sulfonamide yang mempunyai spectrum luas dan banyak digunakan terhadap bermacam – macam penyakit infeksi oleh kuman gram positif maupun negative, salahsatunya pada infeksi mata yang disababkan oleh kuman – kuman yang peka terhadap sulfonamide. Sulfasetamid merupakan sulfonamide aksi pendek yang mempunyai aktivitas bakterisid ( Tjay, 2002 : 22 ).

Anonim, 1978, Formularium Nasional, edisi kedua, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
276. 323. 324.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 12.
13. 856. 1038.
Anief, Moh, 2002, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 53.
Saifullah, T.N, dan Rina Kuswahyuning, 2008, Teknologi dan Formulasi Sediaan
Semipadat, Pustaka Laboratotium Teknologi Farmasi UGM, Yogyakarta. 59. 63. 64
Tjay, Tan Hoan , et all, 2000, Obat – Obat Penting, Elex Media Computindo, Jakarta.
132.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar