Rabu, 02 Desember 2009

Injeksi

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir (Anonim, 1978 , halaman 317).
Menurut Ansel , 2005 (halaman 399) obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirosgen yang dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral seperti yang umum digunakan, menunjukkan pemberian lewat suntikan seperti berbagai sediaan yang diberikan dengan suntikkan. Kata ini berasal dari kata Yunani, para dan enteron berarti di luar usus halus dan merupakan rute pemberian lain dari rute oral. Pirogen adalah senyawa organik yang menimbulkan demam, berasal dari pengotoran mikroba dan merupakan penyebab banyak reaksi – reaksi febril yang timbul pada penderita yang menerima suntukan intravena.
Sedangkan menurut Farmakope Indonesia, 1995 (halaman 9), sediaan steril untuk kegunaan pareteral digolongkan menjadi 5 jenis yang berbeda yaitu : (1) obat atau larutan atau emulsi yang digunakan untuk injeksi, ditandai dengan nama, Injeksi …; (2) sediaan padat kering atau cairan pekat tidak mengandung dapar, pengencer ataubahan tambahan lain dan larutan yng diperoleh setelah persyaratan Injeksi, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya, … Steril ; (3) sediaan seperti tertera pada (2) tetapi mengandung satu atau lebih zat padat, pengencer atau bahan tambahan lain, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya, ... untuk injeksi ; (4) sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam saluran spinal, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya, Suspensi … Steril dan (5) sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspense steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya, … Steril untuk Suspensi.

Injeksi merupakan salahsatu bentuk sediaan parenteral dimana memiliki :
1.Keuntungan
- Obat memiliki onset ( mulai kerja ) yang cepat
- Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
- Bioavailabilitas sempurna atau hampir sempurna
- Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinalis dapat dihindarkan
- Obat dapat diberikan kepada penderita yang sakit keras atau yang sedang
dalam keadaan koma
2.Kerugian
- Rasa nyeri saat disuntik, apalagi kalau harus diberikan berulang kali
- Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut disuntik
- Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki,
terutama sesudah pemberian intravena
- Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di rumah sakit atau tempat
pratik dokter oleh dokter dan perawat yang kompetan ( Lukas, 2006, halaman
9 – 10 ).
Persyaratan sediaan parenteral antara lain :
1.Sesuai antara kandungan bahan obat yang ada di dalam sediaan dengan pernyataan
tertulis pada etiket dan tidak terjadi pengurangan kualitas selama penyimpanan
akibat perusakan obat secara kimiawi dan lain sebagainya.
2.Penggunaan wadah yang cocok, sehingga tidak hanya memungkinkan sediaan tetap
steril, tetapi juga mencegah terjadinya interaksi antara bahan obat da material
dinding wadah.
3.Tersatukan tanpe terjadi reaksi
4.Bebas kuma
5.Bebas pirogen
6.Isotonis
7.Isohidris
8.Bebas partikel melayang ( Lukas, 2006, halaman 10 ).

Tonisitas laruan obat suntik :
1.Isotonis
Jika suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah, sehingga tidak terjadi pertukaran cairan di antara keduanya, maka larutan dikatakan isotonis ( ekuivalen dengan larutan 0,9% NaCl ).
2.Isoosmotik
Jika suatu larutan memiliki tekanan osmose sama dengan tekanan osmose serum dara, maka larutan dikatakan isoosmotik ( 0,9% NaCl, 154 mmol Na+ dan 154 mmol Cl- per liter = 308 mmol per liter, tekanan osmose 6,86 ). Pengukuran menggunakan alat osmometer dengan kadar mol zat per liter larutan.

3.Hipotonis
Turunnya titik beku kecil, yaitu tekanan osmosenya lebih rendah dari serum darah, sehingga menyebabkna air akan melintasi membrane sel darah merah yang semipermeabel memperbesar volume sel darah merah dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel. Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya sel – sel darah merah. Peristiwa demikian disebut Hemolisa.

4.Hipertonis
Turunnya titik beku besar, yaitu tekanan osmosenya lebih tinggi dari serum darah, sehingga menyebabkan air keluar dari sel darah merah melintasi membran semipermeabel dan mengakibatkan terjadinya penciutan sel – sel darah merah. Peristiwa demikian disebut Plasmolisa.
Bahan pembantu mengatur tonisitas adalah : NaCl, Glukosa, Sukrosa, KNO3 dan NaNO3
( Lukas, 2006, halaman 50 – 51 ).


Anonim, 1978, Formularium Nasional, edisi kedua, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
134. 323. 324.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 47.
97. 133 – 134. 404. 412.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 39 –
40. 112 – 113. 584 – 585. 589 – 590.
Ansel, 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi IV, UI-PRESS, Jakarta. 399-437.
Lukas, Stafanus, 2006, Formulasi Steril, ANDI Yogyakarta, Yogyakarta. 9-59. 105-125.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar